Apa Itu Pinjol Syariah? Pinjaman Online Yang Halal Kah?

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh menetapkan fatwa haram bagi pinjaman online (pinjol) juga pinjaman offline yang mengandung riba. Fatwa haram itu disampaikan Asrorun pada Forum Ijtima Ulama MUI, Kamis (11/11) lalu.

Ia mengungkapkan pinjaman yang mengandung riba permanen haram hukumnya, sekalipun transaksi meminjam dilakukan atas dasar kerelaan. Pihaknya meminta pada otoritas terkait buat terus menaikkan proteksi pada warga  & menindak tegas penyalahgunaan pinjol.

Di lain sisi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pandangan MUI yang mencap pinjol haram memang berdasarkan dalam nilai-nilai keagamaan. Tetapi begitu, kehadiran layanan hadiah pinjaman jua hadir pada bentuk syariah.

“Sistem keuangan kita masih menganut dual system, sebagai akibatnya masih memungkinkan pinjaman online atau offline mempunyai ciri konvensional & berbasis syariah,” istilah Deputi Komisioner Manajemen Strategis & Logistik OJK Anto Prabowo, Jumat (12/11).

Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia Andy Nugroho berkata pinjol syariah adalah produk keuangan yang berbasis syariat kepercayaan  Islam. Ia menilai secara operasional layanan pinjol hampir seperti menggunakan pinjaman konvensional, tetapi tidak sinkron pada praktek akad & pengelolaan dananya.

“Yang membedakan pada awal terdapat ijab kabul, terdapat kontrak & akadnya dulu, nanti terdapat beberapa macam yang sanggup dipilih. Itu yang membedakan menggunakan non syariah,” tutur Andy, Senin (15/11).

Dalam sistem syariah, masih ada beberapa jenis akad yang bisa dipilih pengguna, pada antaranya akad jual beli, akad simpan pinjam, akad saling membantu, & lain sebagainya. Sementara itu, pada sistem konvensional, tak masih ada akad tadi.

Andy menyampaikan pinjol syariah yang telah terdaftar pada OJK seharusnya jua terdaftar pada Dewan Pengawas Syariah (DPS)-MUI. Nantinya, dewan akan mengutus perwakilan buat mengawasi operasional fintech syariah berdasarkan sisi ketaatan terhadap aturan Islam.

Tetapi demikian, dia berkata tak terdapat pinjaman syariah yang sahih-sahih berbasis syariat kepercayaan  Islam. Sebab, masih masih ada beberapa hal yang tak mungkin dilakukan pada urusan pinjaman pada masa kini.

“Dalam syariat Islam, saat aku  bisa pinjaman berdasarkan Anda & aku  tak sanggup melunasi, Anda tak boleh menagih pada aku . Tetapi, apabila itu terjadi pada masa sekarang, justru akan menyebabkan masalah. Maka, dibuatlah kompromi tertentu,” imbuh dia.

Kompromi tadi akan permanen mencari cara buat mendekati anggaran yang berlaku pada Al Quran & Hadis. Ambil contoh, bentuk komprominya merupakan pinjol syariah tak menerapkan praktek kekerasan pada menagih utang, sebagai akibatnya tak merugikan baik pengguna juga penyedia layanan.

Secara praktek, meminjam uang melalui pinjol syariah hampir sama menggunakan pinjol konvensional. Tetapi, disparitas terletak dalam akad & proses pengembaliannya.

“Misal memakai akad jual beli, aku  ingin pinjam Rp10 juta, tetapi pada perjanjian antara pengguna & pemberi layanan mengakadkan Rp10,lima juta. Kemudian, nanti akan dibagi pada beberapa bulan buat proses pengembaliannya,” kentara Andy.

Skema tadi tidak sinkron menggunakan pinjaman konvensional yang tetapkan pinjaman sebanyak Rp10 juta, tetapi mempunyai bunga yang wajib  dibayarkan. Sehingga, bunga tadi yang lalu dianggap riba & diharamkan sang MUI.

Dari sisi kondisi peminjaman, pinjol syariah mempunyai poly kecenderungan menggunakan pinjol konvensional. Tetapi, pada penggunaan dana pinjaman syariah peminjam tak boleh memakai uang pinjaman buat aktivitas yang dihentikan pada syariat misalnya maysir (perjudian), gharar (ketidakpastian), riba (berbunga), & haram.

Ia berkata laba meminjam pada pinjol syariah artinya mengkonsumsi produk keuangan yang sinkron menggunakan syariat kepercayaan  Islam. Sebab, pada dalamnya tak mengandung unsur riba & haram.

Anda mungkin juga suka...